Tampilkan postingan dengan label Sosiologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosiologi. Tampilkan semua postingan
Fungsi Keluarga

Fungsi Keluarga


Keluarga merupakan unit sosial terkecil dan memiliki peran penting yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anak. Keluarga memiliki beberapa fungsi tertentu. Berikut ini adalah penjelasan mengenai fungsi keluarga.

A.Fungsi Keluarga menurut Soejono Prawiraharja
Menurut Soejono Prawiraharja yang merupakan seorang psikiater di UGM, keluarga memiliki fungsi sebagai berikut :

  • Melahirkan anak sebagai kelanjutan identitas keluarga.
  • Mempertahankan ekonomi keluarga.
  • Membesarkan anak.
  • Meletakkan dasar-dasar sosialisasi.
  • Merupakan wadah pendidikan informal.
  • Tempat terselenggaranya transmisi (perpindahan) kebudayaan dari generasi ke generasi.
  • Tempat rekreasi, kehangatan, dan kontrol terhadap keluarga.

B.Fungsi Keluarga Secara Umum
Secara umum, keluarga memiliki fungsi sebagai berikut :

  1. Fungsi Reproduksi : Dalam keluarga, anak-anak merupakan wujud cinta kasih dan tanggung jawab suami istri meneruskan keturunanya.
  2. Fungsi Sosialisasi : Keluarga berperan membentuk kepribadian anak agar sesuai dengan harapan orang tua dan masyarakat.
  3. Fungsi Afeksi : Keluarga akan memberikan kehangatan, kasih sayang, dan perhatian kepada anaknya.
  4. Fungsi Ekonomi : Keluarga memiliki kewajiban untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya.
  5. Fungsi Pengawasan Sosial : Setiap anggota keluarga saling melakukan kontrol dan pengawasan untuk menjaga nama baik keluarga. Namun biasanya anggota yang lebih tua yang melakukan hal ini.
  6. Fungsi Proteksi (Perlindungan) : Keluarga harus melindungi anak agar anak merasa aman hidup ditengah-tengah keluarga dan tidak khawatir terhadap ancaman dari luar.
  7. Fungsi Pemberian Status : Melalui perkawinan, seseorang akan mendapatkan status atau kedudukan yang baru di masyarakat, yaitu sebagai suami atau istri. Secara otomatis, ia akan diperlakukan sebagai orang dewasa dan mampu bertanggung jawab kepada diri, keluarga, anak-anak, dan masyarakatnya.

Itu tadi penjelasan mengenai fungsi keluarga. Semoga artikel ini dapat menambah ilmu pembaca mengenai fungsi keluarga.

Terima kasih telah berkunjung ke blog ini, dan jangan lupa nantikan artikel kami yang menarik dan bermanfaat selanjutnya.

Referensi :
Maryati, Kun dan Juju Suryawati. 2012. Sosiologi untuk SMA/MA Kelas XII. Jakarta : Esis 
Pengertian dan Penyebab Urbanisasi

Pengertian dan Penyebab Urbanisasi


Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) yang dimaksud dengan urbanisasi adalah perpindahan penduduk secara berduyun-duyun dari desa (kota kecil, daerah) ke kota besar (pusat pemerintahan).  Urbanisasi dapat terjadi diakibatkan oleh sebab-sebab tertentu. Apa saja penyebabnya? Berikut ini adalah penjelasan mengenai penyebab terjadinya urbanisasi.

Penyebab Urbanisasi

A.Daya Tarik Ekonomi 
Salah satu penyebab terjadinya urbanisasi adalah karena di kota terdapat daya tarik ekonomi. Orang berharap di kota ia mendapatkan pekerjaan yang lebih layak dan lebih baik dibandingkan dengan pekerjaan yang ada di desa. Hal inilah yang membuat banyak orang desa ingin pindah ke kota.

B.Daya Tarik Sosial
Di kota terdapat banyak status sosial yang lebih tinggi dari desa. Sehingga banyak warga desa yang ingin meningkatkan status sosial mereka. Oleh karena itu banyak warga desa yang berpindah ke kota. Peningkatan status sosial ini bisa dari pendidikan ataupun dari pekerjaan. Misalnya orang yang tadinya di desa bekerja sebagai petani, ketika di kota ia meningkatkan status sosialnya menjadi seorang pegawai negeri.

C.Daya Tarik Pendidikan
Fasilitas pendidikan di kota tentu lebih baik daripada yang ada di desa. Hal inilah yang mendorong orang tua untuk menyekolahkan anak mereka di kota dengan harapan setelah lulus pendidikan yang tinggi, anak tersebut mampu untuk meningkatkan status sosial keluarganya.

D.Daya Tarik Budaya
Kota sering dianggap oleh masyarakat sebagai tempat yang serba modern dan memiliki banyak tempat hiburan. Berbeda dengan desa yang dianggap masyarakat sebagai tempat kuno dan tidak banyak tempat hiburan. Hal inilah yang membuat banyak orang desa pindah ke kota dan setelah berhasil di kota ia akan mengikuti pola kehidupan di kota yang glamor ketika kembali ke desanya agar tidak dianggap kuno.

Itu tadi penjelasan mengenai penjelasan mengenai pengertian dan penyebab terjadinya urbanisasi. Semoga artikel ini dapat membantu pembaca dalam mengetahui mengapa urbanisasi dapat terjadi.

Terima kasih telah berkunjung ke blog ini, dan jangan lupa nantikan artikel kami yang menarik dan bermanfaat selanjutnya.

Referensi :
1.Maryati, Kun dan Juju Suryawati. 2012. Sosiologi untuk SMA/MA Kelas XII. Jakarta : Esis 
2.https://www.kbbi.web.id/urbanisasi
Pola Menetap Sesudah Perkawinan

Pola Menetap Sesudah Perkawinan


Pasangan suami dan istri yang baru saja menikah tentu membutuhkan tempat tinggal untuk membangun keluarganya. Ada beberapa pola menetap yang biasanya kita kenal dan digunakan oleh suami atau istri yang sudah menikah. Berikut ini adalah penjelasan mengenai pola menetap tersebut.

Pola Menetap Sesudah Perkawinan
Dalam sosiologi ada beberapa pola menetap sesudah perkawinan. Berikut ini adalah polanya :

  1. Patrilokal (virilokal), yaitu pasangan suami istri yang bertempat tinggal di sekitar pusat kediaman kerabat suami.
  2. Matrilokal (otorilokal), yaitu pasangan suami istri yang bertempat tinggal di sekitar kerabat istri.
  3. Bilokal, yaitu pasangan suami istri menetap secara bergantian antara kerabat istri dan kerabat suami.
  4. Neolokal, yaitu pasangan suami istri bertempat tinggal di tempat baru.
  5. Avunkulokal, yaitu pasangan suami istri menetap di rumah saudara laki-laki ibu (paman) dari pihak suami.
  6. Natalokal, yaitu suami dan istri tidak tinggal di tempat yang sama tetapi tinggal di tempat kelahirannya masing-masing dan hanya bertemu untuk waktu yang relatif pendek.
  7. Utrolokal, yaitu pasangan suami istri bebas menentukan tempat tinggalnya.
  8. Komonlokal, yaitu pasangan suami istri bertempat tinggal dalam kelompok yang terdiri dari orang tua kedua belah pihak.

Itu tadi penjelasan mengenai pola menetap sesudah perkawinan. Semoga artikel ini dapat memberi informasi mengenai pola menetap sesudah perkawinan.

Terima kasih telah berkunjung ke blog ini, dan jangan lupa nantikan artikel kami yang menarik dan bermanfaat selanjutnya.

Referensi :
Maryati, Kun dan Juju Suryawati. 2012. Sosiologi untuk SMA/MA Kelas XII. Jakarta : Esis 


Fungsi Lembaga Pendidikan

Fungsi Lembaga Pendidikan

Lembaga pendidikan merupakan tempat bagi masyarakat modern untuk mendapatkan pengetahuan yang lebih dalam seperti spesialisasi dalam pekerjaan. Sebab pengetahuan mengenai spesialisasi pekerjaan ini cukup sulit untuk didapatkan dari lembaga keluarga ataupun lainnya. Oleh karena itu, lembaga pendidikan memiliki fungsi didalam masyarakat. Berikut ini adalah beberapa pendapat ahli mengenai fungsi lembaga pendidikan di masyarakat.

Fungsi Lembaga Pendidikan
Beberapa ahli berusaha untuk mengemukakan pendapatnya mengenai fungsi lembaga pendidikan yang ada di masyarakat. Berikut ini pendapat dari mereka.

1.Bruce J. Cohen
Menurut Bruce J. Cohen, lembaga pendidikan memiliki fungsi sebagai berikut ini :

  • Memberikan persiapan bagi peranan-peranan pekerjaan.
  • Sebagai perantara perpindahan warisan kebudayaan.
  • Memperkenalkan peranan dalam masyarakat.
  • Mempersiapkan individu dengan berbagai peranan sosial.
  • Memberi landasan penilaian dan pemahaman.
  • Meningkatkan kemajuan melalui riset-riset ilmiah.
  • Memperkuat penyesuaian diri dan mengembangkan hubungan sosial.

2.Bogardus
Menurut Bogardus, lembaga pendidikan mempunyai fungsi sebagai berikut ini :

  • Memberantas kebodohan, yaitu mengusahakan agar seorang anak mampu menulis dan membaca, serta mengembangkan kemampuan intelektualnya.
  • Menghilangkan salah pengertian, yaitu mengembangkan pengertian yang luas tentang manusia yang berbeda kebudayaan dan kepentingannya.


    3.David Popenoe
    Menurut David Popenoe, lembaga pendidikan mempunyai fungsi sebagai berikut ini :
    • Sebagai transmisi (pemindahan) kebudayaan masyarakat, yaitu selalu disesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakatnya.
    • Menjamin adanya integrasi sosial di tengah masyarakat yang majemuk.
    • Sumber inovasi sosial


      4.Horton dan Hunt
      Menurut Horton dan Hunt terdapat 2 fungsi lembaga pendidikan, yaitu fungsi manfies (nyata) dan fungsi laten. Berikut ini adalah penjelasan keduannya.
      a.Funsgi manifes (nyata) :
      • Mempersiapkan anggota masyarakat untuk mencari nafkah.
      • Mengembangkan bakat perseorangan demi kepuasan pribadi dan kepentingan masyarakat.
      • Melestarikan kebudayaan.
      • Menanamkan keterampilan yang perlu bagi partisipan dalam demokrasi.
      b.Fungsi laten :
      • Mengurangi pengendalian orang tua, melalui sekolah orangtua melimpahkan tugas dan wewenang mendidik anak kepada sekolah.
      • Menyediakan sarana pembangkangan terhadap nilai-nilai yang berlaku di masyarakat.
      • Mempertahankan sistem kelas sosial.
      • Memperpanjang masa remaja.


        Itu tadi penjelasan mengenai fungsi lembaga pendidikan. Semoga artikel ini dapat membantu pembaca dalam mengetahui fungsi dari lembaga pendidikan.
        Terima kasih telah berkunjung ke blog ini, dan jangan lupa nantikan artikel kami yang menarik dan bermanfaat selanjutnya.

        Referensi :
        1.Maryati, Kun dan Juju Suryawati. 2012. Sosiologi untuk SMA/MA Kelas XII. Jakarta : Esis
        2.Suparno, N dan T.D Haryo Tamtomo. 2016. Ilmu Pengetahuan Sosial untuk SMP/MTs Kelas VII. Jakarta : Esis
        Pengertian Homogami dan Heterogami

        Pengertian Homogami dan Heterogami


        Pernahkah anda mendengar kata homogami atau heterogami? Mungkin kata ini masih cukup jarang terdengar di telinga kita sebab jarang digunakan. Lalu, apakah yang dimaksud dengan homogami dan heterogami tersebut? Berikut ini adalah penjelasannya.

        A.Pengertian Homogami
        Homogami dapat diartikan sebagai perkawinan antara anak-anak yang berasal dari keluarga yang memiliki kedudukan sosial yang sama. Misalnya perkawinan antara seorang anak bangsawan dengan anak bangsawan lain, atau perkawinan antara anak dari suku Sunda menikah dengan anak dari suku Sunda.

        B.Pengertian Heterogami
        Heterogami dapat diartikan sebagai perkawinan antara anak-anaka yang berasal dari keluarga yang memiliki kedudukan sosial yang berlainan. Misalnya perkawinan antara seorang anak bangsawan dengan seorang anak biasa, atau perkawinan antara anak dari suku Jawa menikah dengan anak dari suku Sunda.

        Itu tadi penjelasan mengenai pengertian homogami dan heterogami. Semoga artikel ini memperkaya ilmu pembaca dalam mengetahui kata-kata yang jarang didengar.

        Terima kasih telah berkunjung ke blog ini, dan jangan lupa nantikan artikel kami yang menarik dan bermanfaat selanjutnya.

        Referensi :
        Suparno, N dan T.D Haryo Tamtomo. 2016. Ilmu Pengetahuan Sosial untuk SMP/MTs Kelas VII. Jakarta : Esis
        Pengertian Endogami dan Eksogami

        Pengertian Endogami dan Eksogami


        Mungkin anda pernah mendengar kata endogami atau eksogami? kedua kata ini memang sangat asing terdengar di telinga kita sebab jarang digunakan. Lalu, bagi anda yang mungkin pernah mendengarnya pasti ingin mencari tau apa arti dari dua kata tersebut. Berikut ini adalah penjelasannya.

        A.Endogami
        Maksud daripada endogami adalah perkawinan yang berasal dari lingkungan sendiri. Contohnya, perkawinan satu klan, satu suku, atau satu kerabat. Misalnya laki-laki yang merupakan suku jawa menikah dengan perempuan yang juga merupakan suku jawa.

        B.Eksogami
        Maksud daripada eksogami adalah perkawinan yang berasal dari luar lingkungan sendiri, yang artinya kebalikan dari endogami. Pekawinan eksogami bebas memili jodoh di luar klan, kerabat, atau etnisnya. Ada dua jenis eksogami, yaitu Connubium circulasi atau asimetris (sepihak) yang artinya perkawinan terdiri atas dua klan yang hanya mempunyai satu kedudukan sebagai pemberi atau penerima gadis. Selanjutnya ada Connubium symetris, yaitu hubungan perkawinan antara dua klan, di mana kedua klan tersebut saling tukar jodoh bagi para pemudannya.

        Itu tadi penjelasan mengenai pengertian dari endogami dan eksogami. Semoga artikel ini dapat memberi ilmu kepada pembaca mengenai endogami dan eksogami.

        Terima kasih telah berkunjung ke blog ini, dan jangan lupa nantikan artikel kami yang menarik dan bermanfaat selanjutnya.

        Referensi :
        Suparno, N dan T.D Haryo Tamtomo. 2016. Ilmu Pengetahuan Sosial untuk SMP/MTs Kelas VII. Jakarta : Esis
        Pengertian Monogami dan Poligami

        Pengertian Monogami dan Poligami


        Bagi yang sering menonton infotainment tentu sudah tidak asing lagi mendengar kata poligami. Selain poligami, ada juga yang disebut dengan monogami. Lalu apakah pengertian dari keduanya? berikut ini adalah penjelasannya.

        A.Pengertian Monogami
        Monogami berarti perkawinan antara satu laki-laki dengan satu perempuan..

        B.Pengertian Poligami
        Poligami berarti perkawinan antara seseorang dengan lebih dari satu istri atau suami. Perkawinan poligami dapat dibedakan menjadi 2, yaitu :

        1.Poligini
        Poligini adalah perkawinan antara seorang laki-laki dengan beberapa orang perempuan. Ada 2 macam poligini, yaitu poligini sororat yang berarti perkawinan seorang laki-laki dengan beberapa perempuan yang bersaudara kandung, dan poligini nonsororat yang berarti perkawinan antara seorang laki-laki dengan beberapa orang perempuan yang tidak bersaudara kandung.

        2.Poliandri
        Poliandri adalah perkawinan antara seorang peremupan dengan beberapa laki-laki. Ada 2 macam poliandri, yaitu poliandri fraternal yang berarti perkawinan antara seorang perempuan dengan beberapa laki-laki bersaudara kandung, dan poliandri nonfraternal yang berarti perkawinan antara seorang perempuan dengan beberapa laki-laki yang tidak bersaudara kandung.

        Itu tadi penjelasan mengenai pengertian monogami dan poligami. Semoga artikel ini dapat memberitahu arti dari monogami dan poligami kepada pembaca.

        Terima kasih telah berkunjung di blog ini, dan jangan lupa nantikan artikel kami yang menarik dan bermanfaat selanjutnya.

        Referensi :
        Suparno, N dan T.D Haryo Tamtomo. 2016. Ilmu Pengetahuan Sosial untuk SMP/MTs Kelas VII. Jakarta : Esis 
        Jenis-Jenis Penelitian

        Jenis-Jenis Penelitian

        Untuk menemukan sebuah fakta atau pengetahuan baru, manusia harus melakukan penelitian. Penelitian boleh dilakukan oleh siapa saja dan dimana saja sesuai dengan fakta yang ingin didapatkan, tidak harus seorang ahli. Hal inilah yang membuat terdapat berbagai jenis penelitian. Umumnya, penelitian dapat dibagi menjadi lima kelompok besar. Berikut ini adalah penjelasannya

        Jenis-Jenis Penelitian

        A.Penelitian Menurut Tujuannya
        Menurut tujuannya, penelitian dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu penelitian dasar dan penelitian terapan. Berikut ini adalah penjelasan kedua kelompok penelitian tersebut :

        1.Penelitian Dasar
        Kegiatan utama dalam penelitian dasar adalah mengumpulkan informasi untuk menyusun konsep dan hubungan, serta perjalinan teoritik untuk menemukan prinsip-prinsip umum mengenai suatu topik (permasalahan) yang nyata dalam kehidupan. Sebagai contoh adalah Albert Einstein dengan teori relativitasnya.

        2.Penelitian Terapan
        Dalam penelitian terapan, hal yang dilakukan adalah mengumpulkan informasi yang bertujuan untuk memecahkan suatu persoalan dalam kehidupan sehari-hari. Hasil penelitian terapan akan digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan terbatas pada problem yang menjadi objek penelitian saja dan tidak diterapkan pada masalah yang lebih luas. Sebagai contoh penelitian kecepatan mengetik siswa SMA yang berguna untuk memberikan langkah tepat dalam penyelesaian pembuatan dokumen.

        B.Penelitian Menurut Metodenya
        Menurut metodenya, penelitian dapat dibagi menjadi beberapa jenis sebagai berikut.

        1.Penelitian Historik
        Penelitian Historik berusaha untuk mengkaji peristiwa yang telah terjadi di masa lampau. Sumber dari penelitian ini adalah gambaran tertulis maupun lisan dari objek penelitian. Tujuannya adalah membuat rekonstruksi masa lampau secara sistematis dan objektif. Contohnya penelitian tentang praktik administrasi pada zaman kerajaan Hindu-Buddha.

        2.Penelitian Survei
        Penelitian survei berusaha untuk mendapatkan informasi dari sekelompok orang dengan cara melakukan penyebaran angket atau wawancara. Pada umumnya, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengatasi masalah yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya konflik antar agama.

        3.Penelitian Eksperimen
        Penelitian eksperimen merupakan jenis penelitian yang memanipulasi atau mengontrol situasi alamiah menjadi situasi buatan sesuai dengan tujuan penelitian. Misal, pengaruh tidur larut terhadap prestasi belajar, nantinya akan ada dua kelompok besar dimana salah satu kelompok tidur dengan waktu normal sedangkan kelompok lainnya tidur larut. Lalu, dilihatlah prestasi belajar dari dua kelompok tersebut apakah sama atau terdapat perbedaan.

        4.Penelitian Observasi
        Penelitian Obeservasi adalah penelitian yang mendapatkan informasi secara langsung dari tingkah laku orang yang diamati.

        C.Penelitian Menurut Taraf Pemberian Informasi
        Menurut taraf pemberian informasi, penelitian dapat dibedakan menjadi 3, yaitu deskriptif, eksplanasi, dan eksplorasi.

        1.Penelitian Deskriptif
        Penelitian deskriptif menghasilkan penelitian yang tarafnya memberikan penjelasan mengenai gambaran tentang ciri-ciri suatu gejala yang diteliti. Tujuannya adalah mengungkapkan suatu masalah dan keadaan sebagaimana adanya. Penelitian deskriptif hanya merupakan penyingkapan fakta. Dalam penelitian ini, peneliti hanya melukiskan, memaparkan, dan melaporkan suatu keadaan, objek, atau peristiwa tanpa menarik kesimpulan umum.

        2.Penelitian Eksplanasi
        Penelitian eksplanasi menghasilkan penelitian yang lebih lengkap dibandingkan penelitian deskriptif. Penelitian jenis ini tidak hanya menjawab pertanyaan apa atas suatu persoalan, tapi juga menggambarkan mengapa persoalan dapat muncul. Penelitian jenis ini akan menghasilkan sebuah kesimpulan baik berupa asosiatif atau kausalitas. Kesimpulan asosiatif menjelaskan hubungan dua variabel atau lebih, tetapi tidak membuktikan variabel mana yang menjadi penyebab dan mana yang akibat. Sedangkan kausalitas adalah memberikan penjelasan secara konkret tentang variabel mana yang penyebab dan mana yang akibat.

        3.Penelitian Eksplorasi
        Penelitian eksplorasi menghasilkan penelitian yang sangat dalam. Menyangkut apa, mengapa, bagaimana dari suatu fenomena sosial. Penelitian ini tidak hanya menggambarkan sebuah fenomena sosial, tetapi juga menjelaskan mengapa fenomena terjadi, dan bagaimana fenomena tersebut diterima masyarakat.

        D.Penelitian Menurut Data yang Dikumpulkan
        Menurut data yang dikumpulkan, penelitian dapat dibedakan menjadi 2, yaitu sebagai berikut.

        1.Penelitian Kuantitatif
        Penelitian Kuantitatif adalah penelitian yang menekankan pada jumlah data yang dikumpulkan. Penelitian ini hanya melihat data lapisan permukaan.

        2.Penelitian Kualitatif
        Penelitian kualitatif menekankan pada kualitas data dan kedalaman data yang diperoleh.

        E.Penelitian Menurut Tempat Pelaksanaanya
        Menurut tempat pelaksanaanya, penelitian dapat dibedakan menjadi 3, yaitu.

        1.Penelitian Laboratorium
        Penelitian ini dilakukan disuatu tempat khusus dengan berbagai peralatan dan teknologi. Pada umumnya penelitian ini dilakukan oleh sebuah tim dengan anggota yang berasal dari berbagai disiplin ilmu.

        2.Penelitian Lapangan
        Penelitian lapangan dilakukan di kehidupan sebenarnya, misalnya penelitian tentang kehidupan orang miskin, pengemudi becak dan sebagainya. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan realitas yang terjadi di masyarakat.

        3.Penelitian Perpustakaan
        Penelitian ini dilakukan di perpustakaan. Peneliti akan mengumpulkan data dan informasi dengan bantuan berbagai materi misalnya buku, peta, dan lain sebagainya. Pada umumnya penelitian perpustakaan merupakan dasar untuk melakukan penelitian lapangan.

        Itu tadi penjelasan mengenai jenis-jenis penelitian. Semoga dengan adanya artikel ini dapat memberi informasi kepada pembaca mengenai jenis penelitian.

        Terima kasih telah berkunjung ke blog ini, dan jangan lupa nantikan artikel kami yang menarik dan bermanfaat selanjutnya.

        Referensi :
        Maryaai, Kun dan Juju Suryawati. 2007. Sosiologi untuk SMA dan MA Kelas XII. Jakarta: Esis. 
        Macam-Macam Pedoman Wawancara

        Macam-Macam Pedoman Wawancara

        Salah satu cara untuk mengumpulkan data dalam penelitian adalah dengan melakukan wawancara. Untuk melakukan wawancara diperlukan persiapan yang matang agar wawancara dapat berjalan dengan baik dan lancar. Selain alat, pedoman dalam wawancara juga harus diperhatikan.

        Ada dua macam pedoman dalam wawancara, yaitu pedoman wawancara tidak terstruktur dan pedoman wawancara terstruktur. Berikut ini adalah penjelasannya.

        Macam-Macam Pedoman Wawancara

        A.Pedoman Wawancara Tidak Terstruktur
        Pada pedoman wawancara tidak terstruktur, pewawancara hanya memuat garis-garis besar wawancara saja. Wawancara disesuaikan dengan garis besar pembicaraan yang telah dipersiapkan. Pada pedoman ini, kreatifitas dari pewawancara sangat diperlukan karena hasil wawancara lebih banyak tergantung dari pewawancara sendiri.

        B.Pedoman Wawancara Terstruktur
        Pada pedoman wawancara terstruktur, pertanyaan disusun secara terperinci sama seperti halnya dengan kuesioner. Pewawancara akan memberikan tanda centang pada pilihan jawaban yang telah tersedia.

        Itu tadi penjelasan mengenai macam-macam pedoman wawancara. Semoga dengan adanya artikel ini dapat menambah informasi pembaca mengenai wawancara.

        Terima kasih telah berkunjung ke blog ini, dan jangan lupa nantikan artikel kami yang menarik dan bermanfaat selanjutnya.

        Referensi :  
        Maryaai, Kun dan Juju Suryawati. 2007. Sosiologi untuk SMA dan MA Kelas XII. Jakarta: Esis. 
        Pengertian dan Jenis-Jenis Data

        Pengertian dan Jenis-Jenis Data

        Dalam mencapai tujuan penelitian, seorang peneliti harus mengumpulkan data yang benar, sehingga tujuan penelitian dapat dicapai. Maka dari itu, pengumpulan data merupakan salah satu langkah penting dalam penelitian.

        Dikarenakan data merupakan hal yang penting dalam penelitian, maka kita harus mengenal lebih jauh apa itu data dan jenis-jenisnya. Berikut ini adalah penjelasan mengenai pengertian data dan jenis-jenis data.

        A.Pengertian Data
        Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) data adalah keterangan atau bahan nyata yang dapat dijadikan dasar kajian (analisis atau kesimpulan).

        B.Jenis-Jenis Data
        Data memiliki banyak jenis, dan dapat dibedakan menjadi beberapa kelompok. Berikut ini adalah penjelasan mengenai jenis-jenis data.

        1.Jenis Data Menurut Cara Perolehannya
        Menurut cara perolehannya data dapat dibedakan menjadi 2, yaitu data primer dan data sekunder. Berikut ini adalah penjelasannya.

        • Data Primer : data primer adalah data yang didapatkan langsung dari lapangan ataupun laboratorium yang diolah oleh organisasi ataupun perseorangan. Data ini dapat diperoleh melalui wawancara, angket, ataupun observasi. Contoh : petugas sensus penduduk yang mendatangi tiap-tiap rumah.
        • Data Sekunder : data sekunder adalah data yang diperoleh dari pihak lain. Artinya data tersebut tidak diperoleh secara langsung, tetapi melalui pihak-pihak lain. Contoh : data mengenai penduduk Indonesia tahun 2010 bisa kita dapatkan dari pemerintah.

        2.Jenis Data Menurut Sifatnya
        Menurut sifatnya data dapat dibedakan menjadi 2, yaitu data kualitatif dan data kuantitatif. Berikut ini adalah penjelasan mengenai kedua jenis data tersebut.

        • Data Kualitatif : data kualitatif adalah data yang tidak dalam bentuk angka. Contoh : lingkungan kumuh akibat adanya bangunan liar.
        • Data Kuantitatif : data kuantitatif adalah data yang dalam bentuk angka. Contoh : 80% warga Indonesia beragama Islam.

        3.Jenis Data Menurut Sumbernya
        Menurut sumbernya data dapat dibedakan menjadi data internal dan data eksternal. Berikut ini adalah penjelasannya.

        • Data Internal : data internal adalah data yang menggambarkan keadaan didalam suatu organisasi seperti perusahaan, departemen, ataupun negara. Contoh : data negara, seperti berapa luas negara, jumlah penduduknya, berapa pendapatan perkapita, dan lain-lain.
        • Data Eksternal : data eksternal adalah data yang menggambarkan keadaan di luar suatu organisasi. Contoh : Pendapat masyarakat tentang suatu perusahaan.

        Itu tadi penjelasan mengenai pengertian dan jenis-jenis data. Semoga dengan adanya artikel ini, dapat menambah pengetahuan pembaca mengenai data.

        Terima kasih telah berkunjung ke blog ini, dan jangan lupa nantikan artikel kami yang bermanfaat dan menarik selanjutnya.


        Jenis-Jenis Wawancara

        Jenis-Jenis Wawancara

        Dalam melakukan penelitian, ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengumpulkan data. Salah satu dari cara tersebut adalah dengan melakukan wawancara. Ada 3 jenis wawancara yang pada umumnya digunakan oleh peneliti. Berikut ini adalah ketiga jenis wawancara tersebut.

        Jenis-Jenis Wawancara

        1.Wawancara Bebas (unguided interview)
        Wawancara bebas adalah wawancara yang dilakukan tanpa harus menggunakan acuan pertanyaan. Hal ini berarti sang pewawancara bebas bertanya apa saja kepada narasumber. Wawancara jenis ini akan membuat narasumber tidak menyadari bahwa ia sedang diwawancarai, sehingga wawancara jenis ini akan membuat suasana lebih santai. Adapun kelemahan dari wawancara ini adalah nantinya pertanyaan yang diajukan kurang terkendali.

        2.Wawancara Terpimpin (guided interview)
        Wawancara terpimpin adalah wawancara yang dilakukan dengan menggunakan acuan pertanyaan. Pada wawancara ini, pewawancara akan membawa sederet pertanyaan yang nantinya akan dijawab oleh narasumber.

        3.Wawancara Bebas Terpimpin 
        Wawancara bebas terpimpin merupakan gabungan dari wawancara bebas dengan wawancara terpimpin. Pada wawancara ini, pewawancara akan membawa sederet pertanyaan, namun pada saat wawancara, pewawancara dapat mengembangkan beberapa pertanyaan lagi, sehingga ada pertanyaan yang telah disiapkan dan ada pertanyaan yang dilakukan secara spontan.

        Itu tadi penjelasan mengenai jenis-jenis wawancara. Semoga dengan adanya artikel ini, dapat memberi informasi tambahan kepada pembaca mengenai jenis-jenis wawancara.

        Terima kasih telah berkunjung ke blog ini, dan jangan lupa nantikan artikel kami yang menarik dan bermanfaat selanjutnya.

        Referensi :  
        Maryaai, Kun dan Juju Suryawati. 2007. Sosiologi untuk SMA dan MA Kelas XII. Jakarta: Esis. 
        Sikap Seorang Peneliti

        Sikap Seorang Peneliti


        Dalam melakukan penelitian, seorang peneliti harus mempunyai beberapa sikap agar penelitian yang dihasilkan olehnya dapat dipastikan kebenarannya. Jika seorang peneliti tidak memiliki sikap-sikap seperti dibawah ini, maka penelitian yang ia lakukan dapat diragukan kebenarannya. Lalu, apa saja sikap-sikap yang harus dimiliki seorang peneliti? Berikut ini adalah sikap-sikap tersebut.

        Sikap Seorang Peneliti
        Ada 3 sikap yang harus dimiliki oleh seorang peneliti untuk menghasilkan penelitian yang baik. Berikut ini adalah ketiga sikap tersebut :

        1. Objektif : Seorang peneliti tidak boleh menggabungkan perasaan pribadinya kedalam penelitian yang bersifat subjektif. Agar menghasilkan sebuah penelitian yang baik, maka peneliti harus bekerja sesuai dengan data-data yang ia dapatkan dilapangan. Sebab, jika seorang peneliti memasukkan perasaan pribadinya, maka penelitian tersebut tidak lagi berdasarkan fakta.
        2. Kompeten : Seorang peneliti harus memiliki kemampuan untuk menyelenggarakan penelitian dengan menggunakan metode dan teknik penelitian tertentu.
        3. Faktual : Seorang peneliti harus bekerja sesuai dengan fakta yang ia peroleh.

        Nah, itu penjelasan mengenai sikap seorang peneliti. Semoga dengan adanya artikel ini, dapat membantu pembaca menjadi seorang peneliti yang baik dan menghasilkan penelitian yang baik pula.

        Terima kasih telah berkunjung ke blog ini, dan jangan lupa nantikan artikel kami yang menarik dan bermanfaat selanjutnya.

        Referensi :
        Maryati, Kun dan Juju Suryawati. 2007. Sosiologi untuk SMA dan MA Kelas XII. Jakarta: Esis.   
        Pengertian, Kegunaan, dan Syarat Penelitian

        Pengertian, Kegunaan, dan Syarat Penelitian


        Apa yang ada dibenak kalian jika mendengar kata "Penelitian"? mungkin banyak orang menanggap bahwa penelitian adalah hal yang hanya dapat dilakukan oleh para ahli. Namun, pendapat tersebut salah. Penelitian adalah suatu hal yang dapat dilakukan oleh siapa saja dan dimana saja. Anda tidak harus menjadi seorang ahli yang hebat agar dapat melakukan penelitan. Anggapan bahwa penelitan merupakan hal yang hanya dapat dilakukan oleh ahli adalah salah, karena semua orang berhak melakukan apa yang ingin dia teliti. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang penelitian, mari kita bahas mengenai pengertian, kegunaan, dan juga syarat penelitian dibawah ini.

        A.Pengertian Penelitian
        Berikut ini adalah definisi penelitian menurut beberapa ahli :

        1. Marzuki : Penelitian adalah suatu usaha untuk mengumpulkan, mencari, dan menganalisis fakta-fakta mengenai suatu masalah.
        2. Supranto : Penelitian dari suatu bidang ilmu pengetahuan adalah kegiatan yang dijalankan untuk memperoleh fakta-fakta atau prinsip-prinsip dengan sabar, hati-hati, dan sistematis.
        3. Sutrisno Hadi : Penelitian adalah suatu usaha untuk menemukan sesuatu, mengisi kekosongan atau kekurangan, mengembangkan atau memperluas, dan menggali lebih dalam apa yang telah ada, serta menguji kebenaran terhadap apa yang sudah ada tetapi masih diragukan kebenarannya.

        B.Kegunaan Penelitian
        Dilihat dari kepentingan ilmu pengetahuan, maka penelitian memiliki kegunaan sebagai berikut :

        1. Memperkuat ilmu pengetahuan : Ilmu yang sudah ada dapat dipastikan lagi kebenarannya dengan melakukan penelitian.
        2. Membina dan mengembangkan ilmu pengetahuan : Ilmu yang sudah ada dapat dikembangkan lagi dengan adanya penelitian.

        Ilmu pengetahuan tidak akan dapat bertambah maju tanpa adanya penelitian. Sebab, penelitian adalah dasar untuk meningkatkan pengetahuan dan pengetahuan merupakan dasar dari semua tindakan dan usaha.

        C.Syarat Penelitian
        Ada 3 syarat yang harus diperhatikan untuk melakukan penelitian. Berikut ini adalah ketiga syarat tersebut :

        1. Sistematis : Penelitian dilaksanakan menurut pola tertentu dari yang paling sederhana sampai yang kompleks hingga tercapai tujuan secara efektif dan efisien.
        2. Terencana : Penelitian harus dilaksanakan dengan sengaja dan sudah dipikirkan dengan baik langkah-langkah pelaksanaannya.
        3. Mengikuti konsep ilmiah : Mulai dari awal sampai akhir kegiatan, penelitian dilakukan menurut cara-cara yang sudah ditentukan, yaitu prinsip memperoleh ilmu pengetahuan.

        Nah, itu penjelasan mengenai pengertian, kegunaan, dan syarat penelitian. Semoga dengan adanya artikel ini dapat memberi informasi tambahan kepada pembaca mengenai penelitian.

        Terima kasih telah berkunjung ke blog ini, dan jangan lupa nantikan artikel kami yang menarik dan bermanfaat selanjutnya.

        Referensi :
        Maryaai, Kun dan Juju Suryawati. 2007. Sosiologi untuk SMA dan MA Kelas XII. Jakarta: Esis.  
        Pengertian, Fungsi, dan Ciri-Ciri Lembaga Sosial

        Pengertian, Fungsi, dan Ciri-Ciri Lembaga Sosial

        Banyak norma-norma yang ada di dalam masyarakat, dimana sekumpulan norma akan saling berhubungan dan membentuk suatu sistem norma yang mengatur perilaku dan hubungan antaranggota masyarakat. Sekumpulan norma ini akan diberikan sebuah wadah untuk dapat memenuhi kebutuhan masyarakat yang bersifat khusus yang disebut sebagai lembaga sosial. Berikut ini adalah penjelasan lebih lanjut mengenai lembaga sosial.

        A.Pengertian Lembaga Sosial
        Beberapa ahli memiliki pendapat mereka mengenai pengertian dari lembaga sosial. Berikut ini adalah beberapa pendapat para ahli mengenai lembaga sosial.

        1. Koentjaraningrat : Lembaga sosial adalah suatu sistem tata kelakuan dan hubungan yang berpusat kepada aktivitas untuk memenuhi kompleksitas kebutuhan khusus dalam kehidupan manusia.
        2. Soerjono Soekanto : Lembaga sosial adalah himpunan norma dari segala tingkatan yang berkisar pada suatu kebutuhan pokok dalam kehidupan masyarakat.
        3. Mayor Polak : Lembaga sosial adalah suatu kompleks atau sistem peraturan-peraturan dan adat istiadat yang mempertahankan nilai-nilai penting.

        B.Fungsi Lembaga Sosial
        Secara umum, terdapat dua fungsi yang dimiliki oleh lembaga sosial. Kedua fungsi tersebut adalah fungsi manifes dan fungsi laten. Berikut ini adalah penjelasan mengenai kedua fungsi tersebut.

        1.Fungsi Manifes/Nyata
        Fungsi manifes/nyata adalah fungsi lembaga sosial yang disadari dan diharapkan oleh banyak orang. Berikut ini adalah beberapa contoh dari fungsi manifes lembaga sosial.

        Contoh :

        • Lembaga keluarga yang berfungsi sebagai tempat sosialisasi dan internalisasi nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku didalam masyarakat.
        • Lembaga ekonomi yang berfungsi untuk mengatur sistem produksi, distribusi, dan konsumsi barang yang dibutuhkan oleh anggota masyarakat.

        2.Fungsi Laten
        Fungsi laten adalah fungsi lembaga sosial yang tidak disadari dan bukan menjadi tujuan utama banyak orang. Artinya fungsi laten sebenarnya tidak diharapkan oleh masyarakat namun tetap ada. Berikut ini adalah beberapa contoh fungsi laten dari lembaga sosial.

        Contoh :

        • Dalam lembaga keluarga, perkawinan dijadikan sebagai sarana untuk menutup rasa malu dari anggapan bahwa seseorang yang tidak menikah berarti tidak laku.
        • Dalam lembaga politik, pemilu dijadikan sarana untuk mendapatkan kekuasaan semata, karena dengan kekuasaan seseorang dapat menumpuk kekayaan sebanyak-banyaknya.

        C.Ciri-Ciri Lembaga Sosial
        Berikut ini adalah beberapa ciri-ciri dari lembaga sosial yang membedakannya dengan sistem norma/pranata sosial.

        1.Memiliki Simbol Sendiri
        Setiap lembaga sosial memiliki simbol sendiri untuk menandai kekhasan atau ciri khusus dari setiap lembaga. Sehingga, dapat memberikan identitas tertentu dari anggota masyarakat yang terlibat didalamnya.

        Contoh :

        • Dalam lembaga politik terdapat simbol bendera
        • Dalam lembaga keluarga terdapat simbol cincin kawin.

        2.Memiliki Tata Tertib dan Tradisi
        Lembaga sosial memiliki tata tertib dan tradisi yang tertulis maupun tidak tertulis yang dijadikan panutan bagi pengikutnya.

        Contoh :

        • Dalam lembaga keluarga, terdapat aturan bagaimana untuk menghormati orang yang lebih tua dan melindungi orang yang lebih muda.

        3.Usianya Lebih Lama
        Pada umunya, lembaga sosial memiliki usia yang lebih lama dibandingkan usia seseorang. Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya lembaga sosial yang diwariskan dari generasi ke generasi.

         Contoh :

        • Dalam lembaga keluarga, sistem perkawinan sudah ada sejak zaman dahulu dan masih dianut masyarakat hingga sekarang.

        4.Memiliki Alat Kelengkapan
        Untuk mewujudkan tujuan yang diinginkan oleh lembaga sosial tersebut, maka lembaga sosial memiliki alat kelengkapan untuk mencapai tujuannya.

        Contoh :

        • Bajak dalam lembaga ekonomi digunakan untuk membajak sawah
        • Buku dalam lembaga pendidikan merupakan alat untuk mencapai tujuan proses belajar mengajar.

        5.Memiliki Ideologi
        Lembaga sosial memiliki ideologi sendiri. Ideologi ini dimiliki bersama dan dianggap ideal bagi para pendukung lembaga.

        6.Memiliki Daya Tahan
        Lembaga sosial yang sudah terbentuk tidak akan lenyap/hilang begitu saja.

        Contoh :

        • Adat istiadat dalam lembaga sosial dijadikan pedoman perilaku dalam kehidupan masyarakat.

        Itu tadi penjelasan mengenai pengertian, fungsi, dan ciri-ciri lembaga sosial. Semoga dengan adanya artikel ini dapat memberi informasi lebih lanjut kepada pembaca mengenai lembaga sosial.

        Terima kasih telah berkunjung ke blog ini, dan jangan lupa untuk menantikan artikel kami yang menarik dan bermanfaat selanjutnya.

        Referensi :  
        Maryaai, Kun dan Juju Suryawati. 2007. Sosiologi untuk SMA dan MA Kelas XII. Jakarta: Esis. 


        Tipe-Tipe Lembaga Sosial

        Tipe-Tipe Lembaga Sosial

        Menurut Koentjaraningrat, lembaga sosial adalah suatu sistem tata kelakuan dan hubungan yang berpusat pada aktivitas untuk memenuhi kompleksitas kebutuhan khusus dalam kehidupan manusia. Lembaga sosial dapat dibagi menjadi beberapa tipe dilihat dari berbagai segi. Berikut ini adalah penjelasan mengenai tipe-tipe lembaga sosial.

        Tipe-Tipe Lembaga Sosial
        Lembaga sosial dapat diklasifikasikan dari beberapa segi, yaitu berdasarkan sudut perkembangannya, sudut sistem nilai yang diterima oleh masyarakat, sudut penerimaan masyarakat, sudut penyebarannya, dan sudut fungsinya. Berikut ini adalah penjelasan dari berbagai tipe lembaga sosial menurut John Lewis Gillin dan John Philip Gillin.

        A.Berdasarkan Sudut Perkembangannya
        Berdasarkan sudut perkembangannya, lembaga sosial dapat dibagi menjadi 2 tipe, yaitu :

        1. Crescive Institution, yaitu lembaga sosial yang secara tidak sengaja tumbuh dari adat istiadat masyarakat. Contohnya : lembaga perkawinan, hak milik, dan agama.
        2. Enacted Institution, yaitu lembaga sosial yang sengaja dibentuk untuk mencapai tujuan tertentu. Contohnya : lembaga utang piutang dan lembaga pendidikan. 

        B.Berdasarkan Sudut Sistem Nilai yang Diterima oleh Masyarakat 
        Berdasarkan sudut sistem nilai yang diterima oleh masyarakat, lembaga sosial dapat dibagi menjadi 2 tipe, yaitu :

        1. Basic Institution, yaitu lembaga sosial yang penting untuk memelihara dan mempertahankan tata tertib didalam masyarakat. Contohnya : keluarga, sekolah, dan negara.
        2. Subsidary Institution, yaitu lembaga sosial yang berkaitan dengan hal yang dianggap oleh masyarakat kurang penting. Contohnya : mentraktir teman makan ketika mendapatkan gajian pertama.

        C.Berdasarkan Sudut Penerimaan Masyarakat
        Berdasarkan sudut penerimaan masyarakat, lembaga sosial dapat dibagi menjadi 2 tipe, yaitu :

        1. Approved dan Sanctioned Institution, yaitu lembaga sosial yang diterima oleh masyarakat, dikarenakan masyarakat ingin lembaga sosial yang sudah ada dapat melaksanakan tugasnya dengan baik dan menjadi lebih efektif. Contohnya : lembaga sekolah dan perusahaan dagang.
        2. Unsanctioned Institution, yaitu lembaga sosial yang tidak diterima oleh masyarakat, walaupun masyarakat tidak mampu memberantasnya karena alasan tertentu. Contohnya : sindikat pencurian, pelacuran, dan perjudian.

        D.Berdasarkan Sudut Penyebarannya
        Berdasarkan sudut penyebarannya, lembaga sosial dapat dibagi menjadi 2, yaitu :

        1. General Institution, yaitu lembaga sosial yang sudah dikenal dan diterima oleh masyarakat dunia. Contoh : lembaga agama.
        2. Restructed Institution, yaitu lembaga sosial yang hanya dikenal oleh masyarakat tertentu. Contohnya : lembaga agama Islam, Kristen Protestan, Hindu, dan Buddha. Masing-masing pemeluk agama mengenal lembaga agamanya masing-masing.

        E.Berdasarkan Sudut Fungsinya
        Berdasarkan sudut fungsinya, lembaga sosial dapat dibagi menjadi 2 tipe, yaitu :

        1. Operative Institution, yaitu lembaga sosial yang berfungsi untuk menghimpun pola-pola atau cara yang diperlukan untuk mencapai tujuan dari masyarakat yang bersangkutan. Contohnya : lembaga industri.
        2. Regulative Institution, yaitu lembaga sosial yang bertujuan untuk mengawasi adat istiadat atau tata kelakuan yang ada di masyarakat. Contohnya : lembaga hukum seperti pengadilan dan kejaksaan.

        Nah, itu tadi penjelasan mengenai tipe-tipe lembaga sosial. Semoga dengan adanya artikel ini dapat memberi pengetahuan kepada pembaca mengenai tipe-tipe lembaga sosial. 

        Terima kasih telah berkunjung ke blog ini, dan jangan lupa nantikan artikel kami yang menarik dan bermanfaat selanjutnya.

        Referensi :  
        Maryaai, Kun dan Juju Suryawati. 2007. Sosiologi untuk SMA dan MA Kelas XII. Jakarta: Esis. 
        Pengertian Lembaga Sosial menurut Para Ahli

        Pengertian Lembaga Sosial menurut Para Ahli

        Di dalam masyarakat terdapat banyak norma-norma yang berjalan di masyarakat. Norma-norma tersebut biasanya akan saling berhubungan dan membentuk sistem norma. Contoh daripada sistem norma adalah sistem norma agama. Sistem norma ini akan membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya baik jasmani maupun rohani. Sistem norma yang dapat membantu memenuhi kebutuhan hidup manusia selanjutnya disebut sebagai lembaga sosial.

        Para ahli memiliki berbagai pendapat mengenai pengertian lembaga sosial. Berikut ini adalah beberapa ahli yang memberikan pendapatnya mengenai pengertian dari lembaga sosial.

        Pengertian Lembaga Sosial menurut para Ahli

        1. Paul Horton dan Chester L. Hunt : Lembaga sosial adalah sistem norma-norma sosial dan hubungan-hubungan yang menyatukan nilai-nilai dan prosedur-prosedur tertentu dalam rangka memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.
        2. Peter L. Berger : Lembaga sosial adalah suatu prosedur yang menyebabkan perbuatan manusia ditekan oleh pola tertentu dan dipaksa bergerak melalui jalan yang dianggap sesuai dengan keinginan masyarakat.
        3. Mayor Polak : Lembaga sosial adalah suatu kompleks atau sistem peraturan-peraturan dan adat istiadat yang mempertahankan nilai-nilai penting.
        4. W. Hamilton : Lembaga sosial adalah tata cara kehidupan kelompok, yang apabila dilanggar akan dijatuhi berbagai derajat sanksi.
        5. Robert Maclver dan C.H. Page : Lembaga sosial adalah prosedur atau tata cara yang telah diciptakan untuk mengatur hubungan antarmanusia yang tergabung dalam suatu kelompok masyarakat.
        6. Leopold Von Wiese dan Becker : Lembaga sosial adalah jaringan proses hubungan antarmanusia dan antarkelompok yang berfungsi memelihara hubungan itu serta pola-polanya sesuai dengan minat dan kepentingan individu dan kelompoknya.
        7. Koentjaraningrat : Lembaga sosial adalah suatu sistem tata kelakuan dan hubungan yang berpusat kepada aktivitas untuk memenuhi  kompleksitas kebutuhan khusus dalam kehidupan manusia.
        8. Soerjono Soekanto : Lembaga sosial adalah himpunan norma dari segala tingkatan yang berkisar pada suatu kebutuhan pokok dalam kehidupan masyarakat.

        Nah, itu tadi beberapa pengertian lembaga sosial menurut para ahli. Semoga artikel ini dapat membantu pembaca dalam mengetahui pengertian dari lembaga sosial.

        Terima kasih telah berkunjung ke blog ini, dan jangan lupa nantikan artikel kami yang menarik dan bermanfaat selanjutnya.

        Referensi :  
        Maryaai, Kun dan Juju Suryawati. 2007. Sosiologi untuk SMA dan MA Kelas XII. Jakarta: Esis. 
        Faktor Pendorong dan Faktor Penghambat Perubahan Sosial

        Faktor Pendorong dan Faktor Penghambat Perubahan Sosial

        Setiap masyarakat selalu mengalami perkembangan sehingga masyarakat akan mengalami perubahan pada unsur-unsur struktur sosial. Perubahan sosial tidak dapat terjadi begitu saja, ada beberapa faktor yang mendorong terjadinya perubahan sosial, dan ada juga faktor yang dapat menghambat terjadinya perubahan sosial. Berikut ini adalah penjelasan mengenai faktor pendorong dan faktor penghambat perubahan sosial.

        A.Faktor Pendorong Perubahan Sosial
        Perubahan sosial tidak dapat terjadi dengan sendirinya, ada beberapa faktor yang dapat mendorong terjadinya perubahan sosial. Faktor-faktor tersebut dapat dibagi menjadi 2, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Berikut ini adalah penjelasannya :

        1.Faktor Internal
        Faktor internal merupakan perubahan sosial yang terjadi akibat masyarakat itu sendiri. Berikut ini adalah faktor internal pendorong perubahan sosial :

        a.Bertambah dan Berkurangnya Jumlah Penduduk
        Pertumbuhan penduduk yang sangat cepat menyebabkan terjadinya perubahan dalam struktur masyarakat, terutama lembaga kemasyarakatannya. Sebagai contoh timbul sistem hak milik individual atas tanah, sewa tanah, gadai tanah, dan bagi hasil. Selain bertambahnya jumlah penduduk, berkurangnya jumlah penduduk di desa akibat urbanisasi dapat menyebabkan perubahan sosial yang memengaruhi sistem pembagian kerja. Contoh, ketika para suami dari desa pergi kekota untuk mencari pekerjaan, istri di desa akan mempunyai peran ganda, yaitu sebagai ibu yang mengasuh anaknya, dan menggantikan suami untuk berkerja di ladang.

        b.Penemuan-Penemuan Baru
        Penemuan baru dapat menyebabkan terjadinya perubahan sosial. Penemuan baru dapat dibedakan menjadi dua, yaitu invention dan discovery. Invention adalah proses menghasilkan suatu unsur kebudayaan baru dengan mengkombinasi atau menyusun kembali unsur-unsur kebudayaan lama yang ada dalam masyarakat. Sedangakn discovery adalah penemuan unsur kebudayaan baru, baik alat ataupun gagasan. discovery dapat menjadi invetion jika masyarakat sudah mengakui dan menerapkan penemuan baru tersebut. Penemuan baru dapat mengakibatkan macam-macam perubahan di masyarakat. Perubahan-perubahan tersebut adalah sebagai berikut :

        1. Penemuan baru akan mempengaruhi bidang-bidang lain. Contoh : penemuan radio yang menyebabkan perubahan dalam berbagai bidang, seperti lembaga kemasyarakatan dan adat istiadat.
        2. Penemuan baru mengakibatkan perubahan yang menjalar dari satu lembaga kemasyarakatan ke lembaga kemasyarakatan lainnya. Contoh : penemuan kapal terbang (pesawat) yang membawa pengaruh dalam metode berperang dan memperbesar perbedaan antara negara-negara besar dengan negara-negara kecil.
        3. Beberapa penemuan baru dapat mengakibatkan satu jenis perubahan. Contoh : penemuan berbagai alat transportasi menimbulkan pemukiman yang berada di area pinggiran kota.

        c.Pertentangan Masyarakat
        Pertentangan atau konflik dalam masyarakat dapat menyebabkan perubahan sosial. pertentangan dapat terjadi antarindividu, individu dengan kelompok, atau antarkelompok. Contoh : pertentangan antara golongan muda dan golongan tua ketika Indonesia dalam proses menuju kemerdekaan yang berakhir dengan peristiwa Rengasdengklok.

        d.Terjadinya Pemberontakan atau Revolusi
        Terjadinya revolusi atau pemberontakan dalam suatu negara akan menyebabkan perubahan. Sebagai contoh pemberontokan masyarakat Indonesia terhadap penjajah Belanda yang pada akhirnya membuat negara Indonesia merdeka.

        2.Faktor Eksternal
        Selain dari dalam masyarakat itu sendiri, perubahan sosial juga dapat terjadi karena faktor yang terdapat dari luar masyarakat. Berikut adalah faktor eksternal pendorong perubahan sosial :

        a.Lingkungan Fisik di Sekitar Manusia
        Terjadinya bencana alam seperti banjir, tanah longsor, gunung meletus, dan lainnya akan menyebabkan masyarakat yang terkena dampak bencana mengungsi ketempat baru. Ditempat baru tersebut, mereka harus dapat beradaptasi dengan keadaan baru yang menuntut terjadinya perubahan dalam lembaga-lembaga kemasyarakatannya.

        b.Perperangan
        Perperangan dapat menyebabkan terjadinya perubahan dalam masyarakat. Negara yang memenangkan peperangan biasanya akan memaksakan kebijakannya terhadap negara yang kalah dalam perperangan. Bentuk pemaksaan tersebut dapat berupa ekonomi, politik, dan ekonomi. Contoh : Jepang mengalami perubahan dari negara agraris menjadi negara industri setelah Perang Dunia II.

        c.Pengaruh Kebudayaan Masyarakat Lain
        Hubungan antarmasyarakat dapat membawa pengaruh kepada antarmasyarakat itu sendiri. Artinya masing-masing masyarakat memberikan dan mendapatkan pengaruh dari masyarakat lain. Masuknya pengaruh suatu kebudayaan terhadap kebudayaan lain dapat dilakukan dengan cara difusi dan penetrasi. Berikut adalah pengertian dari difusi dan penetrasi :

        1. Difusi : adalah penyebaran kebudayaan dari satu daerah ke daerah lain baik secara langsung ataupun tidak langsung. Ada 2 tipe difusi, yaitu difusi dalam masyarakat dan difusi antarmasyarakat.
        2. Penetrasi : adalah kebudayaan luar mempengaruhi daerah yang dimasukinnya. Ada 2 tipe penetrasi, yaitu penetrasi damai yang dilakukan secara damai dan penetrasi paksa yang digunakan denga cara kekerasan.

        B.Faktor Penghambat Perubahan Sosial
        Selain faktor pendorong perubahan sosial, adapun faktor-faktor yang dapat menghambat terjadinya perubahan sosial. Berikut adalah faktor penghambat perubahan sosial :

        1. Kurangnya hubungan dengan masyarakat lain menyebabkan suatu masyarakat tidak mengetahui perkembangan yang terjadi di masyarakat lain yang dapat memperkaya kebudayaan masyarakat tersebut.
        2. Perkembangan ilmu pengetahuan yang terlambat akibat kehidupan masyarakat yang tertutup.
        3. Sikap masyarakat yang mengagungkan tradisi masa lam pau dan cenderung konservatif.
        4. Adanya kepentingan yang sudah tertanam kuat. Orang selalu mengidentifikasikan diri dengan usaha dan jasa-jasanya.
        5. Rasa takut akan terjadinya kegoyahan pada integrasi kebudayaan. Masyarakat khawatir integrasi kebudayaan dapat merubahn aspek-aspek tertentu dalam masyarakat.
        6. Prasangka terhadap hal-hal asing terutama yang datang dari Barat. Hal ini diakibatkan pengalaman pada masa penjajahan.
        7. Hambatan-hambatan yang bersifat ideologis. Setiap usaha perubahan pada unsur rohaniah, dianggap sebagai usaha yang berlawanan dengan ideologi masyarakat yang sudah menjadi dasar integrasi kehidupan masyarakat tersebut.
        8. Kebiasaan tertentu dalam masyarakat yang sudah mendarah daging dan sulit diubah.

        Itu tadi penjelasan mengenai faktor pendorong dan faktor penghambat perubahan sosial. Semoga artikel ini dapat membantu pembaca untuk lebih memahami mengenai faktor yang mempengaruhi perubahan sosial.

        Terima kasih telah berkunjung ke blog ini, dan jangan lupa nantikan artikel kami yang menarik dan bermanfaat selanjutnya.

        Referensi :  
        Maryaai, Kun dan Juju Suryawati. 2007. Sosiologi untuk SMA dan MA Kelas XII. Jakarta: Esis. 
        Pengertian, Syarat, dan Gejala Modernisasi

        Pengertian, Syarat, dan Gejala Modernisasi

        Manusia sejak dahulu sudah mengalami perubahan sosial yang besar. Dimulai pada abad ke-18 setelah manusia dapat lepas dari dogma agama. Pada periode ini, manusia sudah mulai menggunakan rasionalitas yang kemudian melahirkan revolusi industri di Inggris. Lalu, pada abad ke-20 banyak negara-negara lepas dari penjajahan dan memunculkan negara-negara baru yang merdeka. Hal ini membuat masyarakat semakin maju karena terdapat perubahan-perubahan yang besar. Proses menuju masyarakat maju itulah yang disebut sebagai Modernisasi. Berikut ini adalah penjelasan lebih lanjut mengenai Modernisasi.

        A.Pengertian Modernisasi
        Modernisasi dengan kata dasar modern berasal dari bahasa Latin, yaitu modo  dan ernus. Modo berarti cara, sedangkan ernus  berarti menunjuk pada periode waktu saat ini. Jadi, modernisasi dapat berarti cara atau proses menuju waktu saat ini.

        Beberapa ahli mengemukakan pendapatnya mengenai modernisasi. Berikut ini adalah pendapat para ahli mengenai modernisasi :

        1. Soerjono Soekanto : Modernisasi adalah suatu bentuk dari perubahan sosial yang biasanya terarah dan didasarkan pada suatu perencanaan sosial.
        2. Koentjaraningrat : Modernisasi adalah usaha untuk hidup sesuai dengan zaman dan keadaan dunia sekarang.
        3. Wilbert E. Moore : Modernisasi adalah suatu transformasi total kehidupan bersama dalam bidang teknologi dan organisasi sosial dari yang tradisional ke arah pola-pola ekonomis dan politis.

        B.Syarat-Syarat Modernisasi 
        Menurut Soerjono Soekanto, terdapat beberapa syarat-syarat modernisasi, yaitu sebagai berikut :

        1. Cara berpikir ilmiah yang sudah melembaga dan tertanam kuat dalam kalangan pemerintah maupun masyarakat luas.
        2. Sistem administrasi negara yang baik dan benar-benar mewujudkan birokrasi.
        3. Sistem pengumpulan data yang baik, teratur, dan terpusat pada suatu lembaga atau badan tertentu.
        4. Penciptaan iklim yang menyenangkan terhadap modernisasi terutama media massa.
        5. Tingkat organisasi yang tinggi, terutama disiplin diri.
        6. Sentralisasi wewenang dalam perencanaan sosial yang tidak mementingkan kepentingan pribadi atau golongan.

        C.Gejala-Gejala Modernisasi
        Modernisasi dapat ditandai dengan gejala-gejala yang muncul dalam berbagai bidang kehidupan manusia. Berikut adalah beberapa gejala yang dapat menandakan terjadinya modernisasi :

        1. Bidang Budaya : Modernisasi ditandai dengan semakin hilangnya budaya tradisional/asli akibat dari masuknya pengaruh kebudayaan yang berasal dari luar. Contoh : budaya gotong royong yang semakin langka, pesta perkawinan yang dilakukan secara praktis dan tidak menggunakan tata cara yang sebenarnya berdasarkan budaya lokal.
        2. Bidang Politik : Modernisasi ditandai dengan banyaknya negara-negara yang lepas dari penjajahan, munculnya berbagai negara baru, tumbuhnya negara-negara demokrasi, lahirnya lembaga-lembaga politik, dan semakin diakuinya hak asasi manusia. Contoh : pada abad ke-20 banyak negara yang melepaskan diri dari penjajahan seperti Indonesia, Malaysia, Vietnam, dan lainnya.
        3. Bidang Ekonomi : Modernisasi ditandai dengan semakin kompleksnya kebutuhan manusia aakan barang-barang dan jasa sehingga sektor industri dibangun secara besar-besar untuk memproduksi barang agar kita semakin mudah memperoleh barang dan jasa. Contoh : banyaknya macam-macam kebutuhan manusia pada saat ini seperti handphone, internet, tv, dan lainnya.
        4. Bidang Sosial : Modernisasi ditandai dengan semakin banyaknya kelompok baru yang muncul seperti kelompok buruh, kaum intelektual, kelompok manajer, dan lain-lain. Sehingga terdapat banyak ragam spesialisasi pekerjaan sesuai dengan perannya. Contoh : SBSI (Serikat Buruh Sejahtera Indonesia), IDI (Ikatan Dokter Indonesia), PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia), dan lain-lain. 

        Itu tadi penjelasan mengenai pengertian, syarat, dan gejala modernisasi. Semoga dengan adanya artikel ini dapat membantu pembaca agar lebih memahami mengenai modernisasi.

        Terima kasih telah berkunjung ke blog ini, dan jangan lupa nantikan artikel kami yang menarik dan bermanfaat selanjutnya.

        Referensi :
        Maryaai, Kun dan Juju Suryawati. 2007. Sosiologi untuk SMA dan MA Kelas XII. Jakarta: Esis.

        Bentuk-Bentuk Perubahan Sosial

        Bentuk-Bentuk Perubahan Sosial

        Masyarakat selalu berkembang dan mengalami perubahan. perubahan yang terjadi dalam masyarakat tersebut disebut sebagai perubahan sosial. Ada beberapa macam bentuk perubahan sosial yang berbeda-beda dan pengaruhnya terhadap masyarakat. Berikut ini adalah penjelasan mengenai bentuk-bentuk perubahan sosial.

        Bentuk-Bentuk Perubahan Sosial
        Ada 8 macam bentuk perubahan sosial. Kedelapan bentuk tersebut adalah sebagai berikut :

        A.Perubahan Lambat (Evolusi)
        Evolusi adalah perubahan sosial yang terjadi secara lambat atau membutuhkan waktu yang lama. Dalam evolusi perubahan terjadi secara perlahan yang biasanya merupakan perubahan-perubahan kecil yang saling mengikuti. Perubahan ini terjadi dengan sendirinya tanpa adanya rencana atau kehendak tertentu. Masyarakat hanya berusaha untuk menyesuaikan diri dengan keperluan, keadaan, dan kondisi yang timbul sejalan dengan pertumbuhan masyarakat. Contoh : Masyarakat yang dahulunya sederhana, menjadi masyarakat yang maju.

        B.Perubahan Cepat (Revolusi)
        Revolusi adalah perubahan yang berlangsung secara cepat dan menyangkut dasar atau pokok-pokok kehidupan masyarakat. Perubahan ini dapat direncanakan ataupun tidak direncanakan dan dapat dijalankan tanpa kekerasan atau menggunakan kekerasan. Ukuran kecepatan suatu perubahan relatif karena revolusi pun dapat memakan waktu yang lama. Contoh : Revolusi industri di Inggris yang merupakan perubahan dari proses produksi tanpa mesin ke proses produksi menggunakan mesin. Waktu sebenarnya untuk melakukan perubahan ini lama, namun dianggap cepat dalam hal merubah sendi-sendi pokok kehidupan masyarakat seperti sistem kekeluargaan dan hubungan antara buruh dengan majikan.

        C.Perubahan Kecil
        Perubahan kecil adalah bentuk perubahan yang terjadi pada unsur-unsur struktur sosial yang tidak membawa pengaruh yang besar atau signifikan. Perubahan ini tidak membawa pengaruh berarti bagi masyarakat secara keseluruhan. Contoh : Perubahan mode pakaian yang hanya diikuti oleh beberapa orang saja.

        D.Perubahan Besar
        Perubahan besar adalah perubahan yang berpengaruh terhadap masyarakat dan lembaga-lembagannya, seperti sistem kerja, hak milik tanah, hubungan kekeluargaan, dan stratifikasi masyarkaat. Contoh : Urbanisasi ke kota-kota yang menimbulkan lahan dikota menjadi sempit dan lahan didesa tidak terurus dengan baik. Akibatnya banyak wanita dan anak-anak yang menjadi buruh dan pengemis di kota.

        E.Perubahan yang Dikehendaki atau Direncanakan
        Perubahan yang dikehendaki/direncanakan adalah bentuk perubahan yang sebelumnya telah direncanakan terlebih dahulu oleh pihak-pihak yang hendak melakukan perubahan didalam masyarakat. Pihak-pihak ini merupakan orang-orang yang memiliki kepercayaan masyarakat sehingga memiliki kekuasaan untuk melakukan perubahan. Contoh daripada pihak ini adalah pemerintah. Sedangkan contoh perubahannya adalah lahirnya undang-undang perkawinan berdasarkan peraturan pemerintah No. 10 Tahun 1963 yang membatasi kaum laki-laki terutama PNS untuk mempunyai istri lebih dari satu.

        F.Perubahan yang Tidak Dikehendaki atau Tidak Direncanakan
        Perubahan yang tidak dikehendaki/tidak direncanakan adalah bentuk perubahan dimana perubahan ini di luar pengawasan masyarakat dan kemampuan manusia. Perubahan ini bisa menimbulkan akibat sosial yang tidak diharapkan masyarakat. Contoh : Petani didesa yang menggunakan traktor, yang mana pengunaan traktor merupakan perubahan yang dikehendaki. Namun, disisi lain muncul perubahan yang tidak dikehendaki seperti kurangnya kebersamaan dalam mengurus lahan pertanian dengan petani lainnya.

        G.Perubahan Struktural
        Perubahan struktural adalah perubahan yang sangat mendasar yang menyebabkan timbulnya reorganisasi dalam masyarakat. Contoh : Perubahan sistem pemerintahan dari sentralisasi ke desentralisasi.

        H.Perubahan Proses
        Perubahan proses adalah perubahan yang tidak mendasar dan merupakan penyempurnaan dari perubahan yang telah ada sebelumnya. Contoh : perubahan kurikulum yang hanya merupakan penyempurnaan dari kurikulum yang telah ada sebelumnya.

        Itu tadi penjelasan mengenai bentuk-bentuk perubahan sosial. Terima kasih telah berkunjung ke blog ini, dan jangan lupa nantikan artikel kami yang menarik dan bermanfaat selanjutnya.
        Pengertian Perubahan Sosial Menurut Para Ahli

        Pengertian Perubahan Sosial Menurut Para Ahli

        Masyarakat selalu berkembang dan mengalami perubahan baik lambat ataupun cepat. Perubahan-perubahan yang terjadi didalam masyarakat disebut sebagai perubahan sosial. Adapun pandangan para ahli mengenai perubahan sosial, yaitu sebagai berikut :

        1. Selo Soemardjan : Perubahan sosial adalah perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan dalam suatu masyarakat yang memengaruhi sistem sosialnya, termasuk nilai-nilai, sikap, dan perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat.
        2. Kingsley Davis : Perubahan sosial adalah perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat.
        3. John Lewis Gillin dan John Philip Gillin : Perubahan sosial sebagai suatu variasi dan cara-cara hidup yang telah diterima, baik karena perubahan kondisi geografis, kebudayaan material, komposisi penduduk, ideologi, maupun karena adanya difusi atau penemuan-penemuan baru dalam masyarakat.
        4. Samuel Koenig : Perubahan sosial menunjuk pada modifikasi-modifikasi yang terjadi dalam pola-pola kehidupan manusia. Modifikasi tersebut dapat terjadi karena faktor-faktor intern maupun ekstern.
        5. Robert Maclver : Perubahan sosial sebagai perubahan dalam hubungan sosial atau sebagai perubahan terhadap keseimbangan hubungan sosial.
        6. William F. Ogburn : Perubahan sosial menekankan pada kondisi teknologis yang menyebabkan terjadinya perubahan pada aspek-aspek kehidupan sosial, seperti kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat berpengaruh terhadap pola berpikir masyarakat.
        7. Emile Durkheim : Perubahan sosial terjadi sebagai hasil dari faktor-faktor ekologis dan demografis, yang mengubah kehidupan masyarakat dari kondisi tradisional yang diikat solidaritas mekanistik, ke dalam kondisi masyarakat modern yang diikat oleh solidaritas organistik.
        8. Raja : Perubahan sosial adalah segala perubahan pada lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat yang memengaruhi suatu sistem sosial.
        9. Max Weber : Perubahan sosial budaya merupakan perubahan situasi didalam masyarakat yang menjadi akibat ketidaksesuaian unsur-unsur.
        10. Wikipedia Indonesia : Perubahan sosial merupakan perubahan yang terjadi pada lembaga-lembaga kemasyarakatan dalam suatu masyarakat yang memengaruhi sistem sosialnya, termasuk nilai, sikap-sikap sosial, pola perilaku diantara kelompok-kelompok dalam masyarakat.

        Itu tadi penjelasan mengenai pengertian perubahan sosial menurut para ahli. Terima kasih telah berkunjung ke blog ini dan jangan lupa nantikan artikel kami yang menarik dan bermanfaat selanjutnya.